Liputan6.com, Jakarta – Wilayah Arab Saudi khas dengan iklim panas dan gurun-gurun pasir yang tandus. Namun, beberapa waktu terakhir ini fenomena alam tak biasa terjadi di wilayah tersebut. The New Arab beberapa waktu lalu pernah melaporkan bahwa tanah Arab Saudi yang biasanya kering menjadi hijau subur setelah dilanda hujan lebat.

Menghijaunya wilayah Arab Saudi sempat menyita perhatian di dunia maya. Tak sedikit yang mengaitkan fenomena alam ini dengan tanda kiamat seperti yang disabdakan Rasulullah SAW.

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

Artinya: “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga tanah Arab kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan sungai-sungai.” (HR Muslim)

Soal tanah Arab Saudi menghijau yang dikaitkan tanda kiamat, ulama ahli tafsir Prof. KH Muhammad Quraish Shihab memberikan tanggapan. Ia mengatakan bahwa sebenarnya tidak semua wilayah Arab Saudi memiliki lahan tandus. Ada wilayah lain yang sejak dulu sudah subur.

“Sebenarnya Saudi itu tidak seluruhnya tandus. Daerah Taif sejak dulu memang hijau. Jangan lantas dianggap bahwa ya itu tanda kiamat,” kata Quraish Shihab di YouTube dalam program Shihab & Shihab, dinukil via NU Online, Selasa (26/3/2024).

Tanda Kiamat yang Disebut Nabi

Penulis tafsir Al Misbah ini mengatakan, Rasulullah SAW pernah menyebutkan tanda-tanda kiamat sejak lama. Tanda-tanda kiamat itu sebagian sudah mulai tampak saat ini.

“Misalnya kedurhakaan anak terhadap orang tua, perlombaan membangun gedung-gedung tinggi, menjamurnya perzinaan. Itu tanda-tanda kiamat yang sudah kita lihat,” sebutnya.

Namun, tanda-tanda kiamat bukan hanya itu saja. Masih ada tanda kiamat besar yang belum muncul. Jika tanda kiamat tersebut sudah terlihat, maka kiamat sudah semakin dekat.

“Tapi ada tanda-tanda besar yang boleh jadi sekarang belum kita lihat tapi itu dari segi ilmiah dimungkinkan bahwa matahari terbit dari sebelah barat, bukan dari sebelah timur, itu tanda besar,” kata Quraish Shihab.

Tanah Arab Menghijau Fenomena Alam Biasa

Menurut Muhammadiyah, menghijaunya beberapa wilayah Arab Saudi merupakan suatu fenomena alam biasa yang terjadi atas kuasa Allah SWT. Dengan kebesaran-Nya, Allah mampu mengubah tanah gersang yang kering menjadi tanah subur yang lembab. Singkatnya, Allah bahkan memiliki kekuatan untuk melawan hukum alam dan determinasi kausalitas sekalipun.

“Ini sebenarnya fenomena alam yang dapat terjadi karena kuasa Allah. Jika orang-orang menghubungkannya dengan hadis tentang Kiamat, mengapa mereka tidak terlebih dahulu menghubungkannya dengan kebesaran Allah?” ucap Staf Sekretariat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Amiruddin, dikutip dari laman muhammadiyah.or.id. 

Amir juga menyarankan agar memandang fenomena ini dalam kacamata burhani. Secara ilmiah, ada kemungkinan, curah hujan yang tinggi dalam durasi yang panjang menjadi penyebab utama

Menurut Amir, menghijaunya wilayah Arab Saudi tidak perlu terlalu cepat menyimpulkan hal tersebut sebagai tanda-tanda kiamat, karena cepat atau lambat, kiamat pasti akan terjadi.

Hal ini sejalan dengan ungkapan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Divisi Fatwa, Muchammad Ichsan. Dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (22/06/22), Ichsan mengatakan bahwa manusia tidak akan mampu memprediksi kedatangan kiamat menggunakan kacamata sains.

Apa yang penting dilakukan saat ini ialah fokus mengerjakan amal salih, dan tidak perlu menerka-nerka bila akan terjadinya kiamat.

“Manusia bisa saja menghitung-hitung. Tetapi tetap saja bila terjadinya kiamat itu adalah hak prerogatif Allah. Laa ta’tiikum illa baghtah. Kiamat akan datang secara tiba-tiba. Kita prediksinya begitu, tetapi ternyata tidak seperti yang kita prediksi,” ucap Ichsan. Wallahu a’lam.

Sumber: liputan6.com

Translate »