Saya takut kita termasuk ke dalam golongan dari mereka yang disebutkan dalam al-Qur’an.

Tidakkah kamu perhatikan orang orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”

Iaitu neraka jahanam, mereka masuk ke dalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.

Ini berbahaya sekali, saudara-saudara…

Ya ikhwah, mari kita selalu mengingatkan saudara-saudara kita…

Setiap orang dari kita harus menjadi alat pengingat bagi siapapun yang berada di kiri, di kanan, di samping, dan seterusnya…

Mari kita bertaubat dan kembali kepada Allah SWT. Apa yang menjadi sebab musibah ini menimpa?

Dan apa yang menjadi sebab saat ini musibah itu pergi?

Ya ikhwah, kita harus memahami, dimulai dari kewajiban pertama yang telah saya sebutkan kepada kalian.

Bahawa yang menjadi sebab kedatangan musibah ini…atau yang menyebabkan Allah SWT menimpakan kepada kita, adalah kemaksiatan-kemaksiatan yang kita lakukan.

Batasan-batasan yang kita lampaui, kita telah melanggar garis-garis merah yang telah dijelaskan di dalam kitabullah: bahawa seorang mukmin tidak boleh melanggarnya, tapi kita telah melanggarnya.

Dan mungkin kalian mengingati itu.

Demikian juga tidak tersedar bagi banyak masyarakat yang tinggal di negeri ini untuk mengingatkan dan memperingatkan.

Dan ini adalah masalah lain lagi, iaitu terjadinya kemungkaran merupakan musibah, dan pembiaran kemungkaran adalah musibah lain.

Inilah yang menyebabkan datangnya musibah ini.

Mungkin saya telah menjelaskan hal itu di beberapa kesempatan lalu.

Adapun penyebab kepergian musibah yang pasti akan berlalu dalam waktu sangat dekat sekali ini, tidak lain adalah ketundukan yang dilakukan oleh para hamba Allah di atas tanah yang diberkahi ini, berlindung, berdoa, bermunajat, dan menghadap kepada Allah SWT.

Banyak di antara para hamba Allah SWT yang mungkin kita tidak mengenal mereka, namun mereka adalah orang-orang bersih, mereka adalah para wali (kekasih Allah) SWT .

Ketundukan yang terus-menerus ini, penghambaan yang terus dilakukan terutama di penghujung terakhir di setiap malam, inilah yang menjadi sebab kepergian musibah ini.

Adapun kewajiban terakhir yang saya ingatkan diri sendiri dan kalian semua tentangnya, bahwa jika Allah SWT memberikan anugerah kepada kita dalam waktu yang dekat ini sehingga musibah ini hilang dari kita, lalu kita menarik nafas panjang, maka jangan sekali-kali kalian melupakan syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan itu,

Mungkin ada di antara kalian yang mengira bahwa syukur kepada Allah SWT cukup dengan mengucapkan “Alhamdulillah” atas segala nikmat.

Tidak, Saudaraku!

Syukur tradisional seperti ini tidak bernilai di sisi Allah SWT.

Syukur kepada Allah SWT atas kepergian bencana dan kedatangan kenikmatan setelahnya adalah dengan cara menunaikan perintah perintah Allah SWT.

Di samping itu juga dengan kita berjanji kepada Allah untuk tidak melakukan kesia-siaan yang tidak diredhai-Nya. Tidak melakukan perbuatan perbuatan haram yang tidak diinginkan-Nya untuk kita. Dan kita tidak keluar dari jalan-Nya menuju jalan yang tidak dikehendaki-Nya untuk kita.

Sumber: https://www.eramuslim.com/

Translate »