Hadits-hadits Nabi yang menceritakan perpecahan dan kehancuran umat Islam dan bangsa banyak bertebaran. Salah satunya yang membahas masalah ini ada di kitab Sunan Abi Daūd, bab Fi Tadā’a al-Umam ‘Ala al-Islām.

[Hampir saja seluruh umat manusia siap memangsa kalian seperti orang-orang rakus yang mengerubuti makanan dalam wadahnya.” Salah seorang sahabat ada yang bertanya, “Apakah waktu itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?”  Beliau menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu sangatlah banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Allah akan sungguh akan mengangkat dari dada musuh-musuh kalian akan rasa rakut dan Allah akan memasukkan kedalah hati kalian penyakit wahn”. Dan sahabat bertanya lagi “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah.?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian”. ( Abu Daud Sulaiman Bin al-Asy’ats al-Sijistani, Sunan Abi Daūd, (Beirut : Dār al-Kitab al-‘Araby, tt ), Juz 4, 184).

Dalam riwayat yang lain: “Kalian pada saat itu dengan jumlah yang banyak akan tetapi kalian menjadi ghutsā’seperti buih, lalu diangkat dari hati musuh-musuh kalian akan rasa takut”. (Ahmad bin Hanbal al-Syaibani, Musnad al-Imām bin Hanbal, ( Kairo, Mu’assah Qarṭbah, tt), Juz 2 , 539. No Hadits : 8698).

Pribadi

Di dalam riwayat yang lain disebutkan: “Bagaimana dengan mu wahai Tsauban, jika orang-orang kafir memangsa kalian, seperti orang-orang yang yang memangsa makanan-makanannya di dalam bejana. Kemudian Tsauban menjawab, “ demi ayah dan ibuku wahai utusan Allah, apakah saat itu jumlah kami sedikit?”. Nabi SAW menjawab, “tidak, pada masa itu kalian sangat banyak, akan tetapi di dalam hati-hati kalian masuk penyakit wahn]. [1] (Ahmad bin Hanbal al-Syaibani, Musnad al-Imām bin Hanbal, (Kairo, Mu’assah Qarṭbah, tt), Juz 2 , 539. No Hadits : 8698).

Penjelasan Hadits tentang Perpecahan Umat Islam

Hadits di atas terdapat dalam kitab Sunan Abi Daūd, bab Fi Tadā’a al-Umam ‘Ala al-Islām, Abdul Muhsin al-‘Abbad (menerangkan maksud Fi Tadā’a al-Umam ‘Ala al-Islām di dalam kitabnya Syarah Sunan Abi Daūd:“2]

[Bahwa orang-orang kafir akan menyerang orang-orang Muslim, dan mereka memiliki kekuatan dan mendominasi, sedangkan kaum Muslim keadaan mereka seperti makanan, yang diserbu oleh pemakan dari setiap sisi.]

Dalam keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa akan terjadi suatu masa kaum kafir akan menyerbu umat Islam dan pada saat itu kaum kafir memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Sehingga Nabi Muhammad SAW mengumpamakan orang Islam seperti makanan yang diserbu pada setiap sisi atau sudut.

Adapaun problem yang disampaikan oleh Nabi SAW terjadi dari fase ke fase, di saat kehancuran Abbasiyyah yang diserang oleh bangsa Mongol, runtuhnya Andalusia dan dikuasainya Falestina oleh musuh, dan sangat jelas sekali terlihat saat-saat kemunduran Kesultanan Utsmani, bahkan dapat juga dirasakan pada dewasa ini.

Oleh karenanya, menemukan asal usul masalah ini dan mencari solusinya tidak dapat menggunakan logika saja dengan membaca sejarah tanpa memahami hadits istibāqiyyah. Maka oleh karena itu, dibutuhkan pengajian yang dalam terhadap teks dengan cara pendekatan bahasa, agar hadits tetap berlaku sebagai petunjuk dan solusi untuk keluar dari problem-problem umat di masa sekarang. Karena teks-teks Islam merupakan petunujuk yang berlaku sepanjang masa. Oleh sebab itu, perlu mengkaji sejarah dengan menggunakan kaca mata hadits.

Mengkaji sejarah dengan mengunakan hadits merupakan sesuatu yang sangat rumit, maka pendekatan bahasa dalam hadits sangat penting sekali untuk menambah wawasan dan pemahaman terhadap sejarah atau kejadian yang telah berlaku atau yang akan terjadi, sehingga mampu memberikan solusi terhadap permasalahan umat Islam.

Oleh sebab itu, ada beberapa teks hadits di atas yang sangat perlu untuk dipahami. Pertama, tadā’a yang memiliki makna, saling bertemu dan mengajak satu sama lain. Kedua, qaṣ’ah yang bermaknakan, mangkuk yang dimakan sampai berkarat di dalamnya, biasanya sering dibuat dari kayu. Ketiga, al- ghutsā’ yang beratikan, sesuatu yang dibawa oleh arus dari pada buih dan dari remukan sesuatu hal yang ada di muka bumi.

Keempat, al-saīl  yang memiliki makna, air yang sangat banyak serta bergerak dengan kuat. Kelima, al-haibah yang bermakna, barang siapa yang memuja sesuatu, niscaya dia akan memujanya ketika dia ditakuti dan disegani. Keenam, al-umam, yang mana dalam teks hadits tersebut berartikan, kelompok orang kafir, atau Barat. Ketujuh, wahn, sangat lemah dalam pemikiran, pekerjaan dan begitu juga dalam menyelesaikan suatu perkara. Adapun sebab kelemahan tersebut adalah karena mencintai dunia dan takut akan kematian. (Muhammad Syams al-Haq al-‘Aẓim,  ‘Aun al-Ma’būd Syarah Sunan Abi Daūd., Juz 11,  272).

Jadi, pemahaman teks hadits tersebut sangat penting sekali untuk menambah wawasan lebih luas lagi dalam memahami konteks yang terjadi dalam sejarah Islam dengan cara mengkaitkan (irtibāṭ) atau menghubungkan dengan situasi yang telah berlaku (subtillitas applicandi). Adapun point-point penting dalam teks hadits di atas, untuk menambah wawasan secara dalam (ta’ammuq), sehingga mampu memberikan solusi terhadap problem umat dewasa ini, adalah :

Satu, Tadā’a ‘alaikum al-umam

Jika diteliti lebih dalam, problem yang sangat berbahaya untuk kemajuan negara-negara Islam adalah tadā’a ‘alaikum al-umam, iaitu Barat menjajah wilayah Islam, kelompok tesebut akan berkumpul dan membahas cara untuk menyerang umat Islam dan menguasai negara, harta-harta, dan seluruh yang dimiliki orang Islam. (Lihat juga : al-Mala Ali al-Qory, Mirqāt al-Mafātih Syarah Miyskat al-Maṣābih, (al-Maktabah al-Syamilah), Juz.15, 309).

Makna teks tersebut dapat dirasakan, salah satunya ketika Kongres Berlin (Jun-Julai 1878) yang dihadiri oleh negara Eropah (Inggeris, Perancis, Austria, dan Itali), berdasarkan hasil rapat tersebut Kesultanan Utsmani kehilangan dua perlima dari wilayahnya dan seperlima penduduknya di Balkan dan Anatoliya Timur, tidak hanya itu Utsmani juga merelakan Cyprus dan Mesir sebagai jajahan Inggris, dan Tunisia diduduki oleh Perancis. (dalam Eugene Rogan, The Fall Of The Khilafah,4-5). Kelompok kafir atau Barat yang membagi wilayah Islam bagaikan makanan merupakan suatu bencana besar bagi umat Islam.

Oleh karena itu, Sultan Abdul Hamid II mengambil kebijakan Pan-Islamisme untuk melindungi wilayah Islam dari jajahan Barat yang ambisius.  Abdul Hamid II mampu mempertahankan kesatuan wilayahnya dari ancaman Barat, namun sebuah gerakan bawah tanah, disebut dengan CUP yang dikendalikan oleh Freemasonry dan Barat berhasil menumbangkan Abdul Hamid II dari kekuasaannya.

Sebelum dihapuskannya Kesultananan Utsmani sesuai dengan perjanjian kaum intelektual dengan Barat, kekuasaan dikendalikan Freemasonry melalui CUP. Sehingga yang menempati jabatan penting dalam pemerintahan Turki Utsmani orang-orang Yahudi dan Negara-negara Barat (Kaum Kafir) berhasil menguasai secara total wilayah Islam setelah runtuhnya Kesultanan Utsmani, yang diistilahkan dengan al-‘Akalat ‘ila Qāṣ’atihā.

 

Adapun problem Tadā’a ‘alaikum al-umam ini, tidak hanya terjadi pada masa Turki Utsmani saja, sadar atau tidak problem ini bisa kita rasakan pada saat sekarang ini. Oleh sebab itu, menemukan sebab terjadinya problem tersebut dengan menggali makna teks hadits di atas sangat diperlukan untuk menemukan suatu solusi, adapun pembahasannya sebagai berikut.

Dua, al-Ghutsā’

Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan suatu peristiwa dahsyat, bahwa kaum Kafir akan menjajah umat Islam bagaikan orang-orang yang menyerbu hidangan makanan. Mendengar hal tersebut, para Sahabat mengira bahwa problem tersebut disebabkan karena jumlah kaum Muslim yang sedikit, kemudian Nabi menjelaskan bahwa jumlah Muslim pada saat itu banyak, akan tetapi keadaan kalian seperti ghutsā’, terpecah tanpa kesatuan.

Artinya, sebab Barat berhasil menguasai wilayah Islam adalah persatuan dan kesungguhan mereka untuk menghancurkan Islam dan pada saat itu umat Muslim dalam keadaan tanpa kesatuan, bahkan bermusuhan satu sama lainnya. Hal demikian merupakan metode Barat untuk menghancurkan umat Islam yang diistilahkan dengan farriq tasud (pisahkan niscaya engkau akan menguasai).

Terpecahnya kelompok Muslim dan saling bermusuhan satu sama lain, Nabi menggabarkan dengan Istilah al-ghutsā’. Oleh karena itu ada beberapa makna yang tersirat pada teks al-ghutsā’, antara lain.

Pertama, dedaunan pohon yang hancur dan usang yang apabila mengalir air dengan deras maka ia akan terlihat seperti buih. Artinya, suatu komunitas yang menjadi mayoritas namun tidak memiliki kekuasaan untuk meguasai.

Kedua, sesuatu yang serupa dengan buih akibat masuk kedalam air yang deras dan benda tersebut tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. (Lihat : Abu Bakr al-Adni, Manhaj al-Salāmah al-Wā’i Syarah Manẓūmah Dalīl al-Dā’I ila Afḍāl al-Masā’i. (Aden : Markaz al-Ibdā’ al-Tsaqāfi, 2006)). Artinya, buih sama sekali tidak memiliki kekuatan, pergi kemanah arah ombak menghantamnya.

Jadi, begitulah gambaran penyakit umat Islam dihantam dan dijajah oleh kaum kafir atau Barat, akibat perpecahan. Dalam makna teks al-ghutsā’ tersebut dapat kita pelajari, bahwa perpecahan adalah suatu tanda yang melahirkan permasalahan besar, yaitu dijajah dan dikucilkan oleh musuh.

Oleh karena itu, Barat melakukan kerjasama dengan para pejabat Kesultanan diberbagai wilayah Utsmani dan pejabat tersebut menjadi antek Inggeris, (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah,120) sehingga menyebabkan perpecahan internal. Adapun perpecahan di internal Utsmani dapat dilihat dari pemberontakan dan perselingkuhan pejabat Utsmani. (Ali Hasun, Tarikh Tārīkh al-Daulah al-‘Utsmāniyyah wa ‘Alāqōtuhā al-Kharījiyyah, 369).

Kerjasama antara zionisme dan Fremasonry beserta Gerakan Turki Muda maupun Komite Persatuan dan Kemajuan sebuah bukti telah terpecahnya pihak internal, yang mana para intelektual tidak lagi bekerjasama dengan Sultan dan para ulama. Bahkan mereka berusaha untuk meruntuhkan Sultan Abdul Hamid II yang dekat dengan para ulama. (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah.,89). Selain permasalahan itu, wilayah Utsmani di tanah Arab juga mengalami perpecahan yang tidak kalah hebatnya.

Sebagaimana di pusat Utsmani memiliki gerakan bawah tanah untuk menghancurkan Kesultanan, maka di Arab juga ada gerakan Qathaniyah yang bertujuan untuk memisahkan diri dari Kesultanan Utsmani, gerakan ini didirikan di Prancis pada tahun 1909, artinya gerakan ini tidak lepas dari pengaruh Eropa agar memudahkan mereka menguasai wilayah-wilyah Islam. (Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt, Juz II, 106). Perpecahan antara Arab dan Turki Utsmani semakin kuat pada saat terjadinya perang dunia 1 (1914-1918), Arab lebih memilih berpihak kepada Inggris, Prancis, dan Rusia ketimbang dengan Kesultanan Utsmani.

Jadi, perpecahan umat Islam sangat terlihat nyata dan tidak bisa ditutupi, ironisnya pada saat sekarang ini perpecahan itu dapat dirasakan, yang mana perpecahan tersebut didukung dan dibantu oleh musuh-musuh Islam sendiri. (Lihat, Muhammad Rasyid Ridho al-Husaini, Tafsīr al-Qur’ān al-Hakīm Tafsīr al-Manār, ( Kairo : al-Khai’at al-Meṣriyyah al-‘Amah li al-Kitāb, 1990 M), Juz 7, 413).

Kemudian, dengan jelas problem umat Islam sampai pada tahap dimangsa serta dijajah oleh Barat merupakan karena perpecahan dan saling mencekal sesama Islam. Karena Barat tidak akan berhasil menjajah umat Islam selama umat Islam tidak terpecah dan saling berperang sesamanya. Hal tersebut telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW lewat haditsnya dalam shahih Muslim no hadits 2889 :

Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat Timur dan Baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yg dihimpunkan untukku, aku diberi dua harta simpanan; merah & putih, dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar tak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, agar Ia tak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri lalu menyerang perkumpulan mereka, dan sesungguhnya Rabbku berfirman: ‘Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tak bisa dirubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar tak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, Aku tak memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka meski mereka dikepung dari segala penjurunya hingga sebagaian dari mereka membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.] (Muslim bin al-Hajaj Abu al-Hasan al-Qusyari al-Naysaburi,  al-Musnad al-Ṣahīh bi naqly al-‘Adl ‘an al-‘Adl ila Rasūlillah, (Beirut : Dār Ihyā’ al-Turāts al-‘Araby ), Juz. 4 , 2215).

Jadi, apa yang telah dikabarkan Nabi pada hadits istibāqiyyah di atas dapat kita lihat kejadiannya lewat sejarah (tārīkh). Bahwa kekuasaan Islam terbentang dari Barat sampai Timur pada masa kejayaan Kesultanan Utsmani. (Herdiansyah, Deden A, Jejak Kekhalifahan Turki Utsmani Di Nusantara, Pro-U Media, 2017). Barat tidak akan berhasil menguasai wilayah Islam kecuali adanya perpecahan umat dan menjadikannya berkelompok-kelompok. Maka oleh karena itu, mengingat pentingnya persatuan, Imam al-Juwainy (419-478 H) mengatakan :

[Bahwa sesungguhnya tujuan utama dari kepemimpinan adalah menyatukan perpecahan dan mengikat percerain.] (dalam Abdulmalik bin Abdullah al-Juwainy, Ghiyāts al-‘Umam wa al-Tiyāts al-ẓulam, (Iskandariyah : Dār Da’wah, 1979), 126).

Oleh karena itu, problem yang menyebabkan umat Islam terpecah tanpa kesatuan (al-ghutsā’) merupakan sesuatu hal yang urgen untuk diketahui penyebabnya. Menelaah secara dalam dengan melihat siyāqu al-kalām, ketika Nabi menyampaikan antum ghutsā’ ka ghutsa’ al-saīl yulqā ‘alaikum al-wahn. Maka, secara langsung kita dapat mengetahui penyebab umat Islam seperti ghutsā’ adalah wahn, yaitu merupakan suatu penyakit yang diakibatkan karena mecintai dunia dan takut akan kematian.*

Sumber: Muhammad Karim,  https://www.hidayatullah.com/

 

 

Translate »