Syeikh Hamzah al-Fansuri telah banyak dibicarakan orang, hampir semua pengkaji yang membicarakan tokoh ulama ini pada zaman modern, selalu merujuk kepada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas. Barangkali dunia memang mengakui bahwa beliaulah orang yang paling banyak memperkenalkan Syeikh Hamzah al-Fansuri kepada dunia. Walau bagaimanapun apabila kita membaca keseluruhan karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas yang membicarakan Syeikh Hamzah al-Fansuri, bukanlah berarti kita tidak perlu mentelaah karya-karya lain lagi, karena apabila kita mentelaah karya-karya selainnya, terutama sekali yang masih berupa manuskrip, tentu sedikit banyak kita akan menemukan perkara-perkara baru yang belum dibicarakan. Karya terkini tentang Syeikh Hamzah al-Fansuri ialah buku yang diberi judul Tashawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah al-Fansuri. Buku setebal 444 halaman itu dikarang oleh Dr. Abdul Hadi W.M. dan terbitan pertama oleh Penerbit Paramadina, Jakarta , 2001

Asal-usul dan pendidikan

Prof. A. Hasymi pada penyelidikannya yang lebih awal bertentangan dengan hasil penyelidikannya yang terakhir. Penyelidikan awal, ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri nampaknya tidak ada hubungan adik beradik dengan ayah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan terakhir beliau mengatakan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri itu adalah adik beradik dengan Syeikh Ali al-Fansuri. Syeikh Ali al-Fansuri adalah ayah kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan awal yang saya maksudkan ialah yang ditulis oleh Prof. A. Hasymi dalam Ruba’i Hamzah Fansuri yang dapat diambil pengertian daripada kalimatnya, “Ayah Hamzah pindah dari Fansur (Singkil) ke Barus untuk mengajar, karena beliau juga seorang ulama besar, seperti halnya ayah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri yang juga ulama, sama-sama berasal dari Fansur (Singkel)” (terbitan DBP, 1976, hlm. 11). Mengenai penyelidikan Prof. A. Hasymi yang menyebut Syeikh Hamzah al-Fansuri saudara Syeikh Ali al-Fansuri atau Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri adalah anak saudara kepada Syeikh Hamzah al-Fansuri, dapat dirujuk kepada kata pengantar buku Hamzah al-Fansuri Penyair Sufi Aceh karya Abdul Hadi W.M. Dan L. K. Ara, diterbitkan oleh Penerbit Lotkala, tanpa menyebut tempat dan tarikh.

Walaupun Prof. A. Hasymi belum memberikan suatu pernyataan tegas bahwa beliau memansukhkan tulisannya yang disebut dalam Ruba’i Hamzah al-Fansuri, namun kita terpaksa memakai penyelidikan terakhir seperti yang telah dijelaskan di atas. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Ulama mengatakan bahwa beliau tidak yakin bahwa Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu benar-benar keponakan (anak saudara) Syeikh Hamzah al-Fansuri. “Sebab, menurutnya, tidak ada sumber lain yang mendukung hal itu.” Bagi saya ia masih boleh dibicarakan dan perlu penelitian yang lebih sempurna dan berkesinambungan. Sebab yang dinamakan sumber pendukung sesuatu pendapat, bukan hanya berdasarkan tulisan tetapi termasuklah cerita yang mutawatir. Kemungkinan Prof. A. Hasymi lebih banyak mendapatkan cerita yang mutawatir berbanding penelitian barat yang banyak disebut oleh Azra. Diterima atau tidak oleh pengkaji selain beliau, terpulanglah ijtihad masing-masing orang yang berkenaan.

Dalam buku Hamzah al-Fansuri Penyair Aceh, Prof. A. Hasymi menyebut bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda ternyata juga ada perubahan daripada tulisan beliau yang termaktub dalam Ruba’i Hamzah al-Fansuri‚ selengkapnya, “Hanya yang sudah pasti, bahwa beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M).” Yang dimaksudkan dengan “ternyata juga ada perubahan”, ialah pada kalimat, ” sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda,” menjadi kalimat “akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda.”

Tarikh lahir Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat belum dapat dipastikan, adapun tempat kelahirannya ada yang menyebut Barus atau Fansur. Disebut lebih terperinci oleh Prof. A.Hasymi bahwa Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkil dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan). Dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bahagian Aceh Selatan. Pendapat lain menyebut bahwa beliau dilahirkan di Syahrun Nawi atau Ayuthia di Siam dan berhijrah serta menetap di Barus.

Drs. Abdur Rahman al-Ahmadi dalam kertas kerjanya menyebut bahwa ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri bernama Syeikh Ismail Aceh bersama Wan Ismail dan Po Rome atau Po Ibrahim (1637- 1687 M) meninggal dunia dalam pertempuran melawan orang Yuwun (Annam) di Phanrang. Bahwa Syeikh Ismail Aceh itu pernah menjadi gubernur di Kota Sri Banoi menggantikan Gubernur Wan Ismail asal Patani yang melepaskan jabatan itu karena usianya yang lanjut. Drs. Abdur Rahman Al-Ahmadi berpendapat baru, dengan menambah Syahrun Nawi itu di Sri Banoi Sri Vini, selain yang telah disebutkan oleh ramai penulis bahwa Syahrun Nawi adalah di Siam atau Aceh. Dalam Patani, yaitu antara perjalanan dari Patani ke Senggora memang terdapat satu kampung yang dinamakan Nawi, berkemungkinan dari kampung itulah yang dimaksudkan seperti yang termaktub dalam syair Syeikh Hamzah al-Fansuri yang menyebut nama Syahrun Nawi itu. Kampung Nawi di Patani itu barangkali nama asalnya memang Syahrun Nawi, lalu telah diubah oleh Siam hingga bernama Nawi saja. Syahrun Nawi adalah di Patani masih boleh diambil kira, karena pada zaman dulu Patani dan sekitarnya adalah suatu kawasan yang memang ramai ulamanya.Antara Aceh dan Patani sejak lama memang ada hubungan yang erat sekali. Walau bagaimanapun Prof. A. Hasymi menyebut bahwa Syahrun Nawi itu adalah nama dari Aceh sebagai peringatan bagi seorang Pangeran dari Siam yang datang ke Aceh pada masa silam yang bernama Syahir Nuwi, yang membangun Aceh pada zaman sebelum Islam.

Daripada berbagai-bagai sumber disebutkan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri telah belajar berbagai ilmu yang menghabiskan waktu yang lama. Selain belajar di Aceh sendiri beliau telah mengembara ke pelbagai tempat, di antaranya ke Banten (Jawa Barat), bahkan sumber yang lain menyebut bahwa beliau pernah mengembara keseluruh tanah Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India , Parsi dan Arab. Dikatakan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri sangat mahir dalam ilmu-ilmu fiqah, tashawuf, falsafah, manthiq, ilmu kalam, sejarah, sastra dan lain-lain. Dalam bidang bahasa pula beliau menguasai seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih dalam ucapan bahasa itu, bisa berbahasa Urdu, Parsi, Melayu dan Jawa.

Karya-karyanya

Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat digolongkan kepada peringkat awal dalam menghasilkan karya puisi/sastra dalam bahasa Melayu, sangat menonjol terutama sekali dalam sektor sufi. Lebih tersebarlah lagi kemasyhurannya karena terjadi kontroversi yang dilemparkan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang dimulai dengan karya-karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri, berlanjutan terus hingga sampai ke hari ini karya-karya Syeikh Hamzah al-Fansuri selalu dibicarakan dalam forum-forum ilmiah.

Di bawah ini saya beberapa karya beliau yang telah diketahui, yaiitu:

1). Syarb al- ‘Asyiqin atau Zinatul Muwahhidin.

2). Asrar al-‘Arifin fi Bayan ‘Ilm as-Suluk wa at-Tauhid.

3). Al-Muntahi.

4). Ruba’i Hamzah Fansuri.

5). Kasyf Sirri Tajalli ash-Shibyan.

6). Kitab fi Bayani Ma’rifah.

7). Syair Si Burung Pingai.

8). Syair Si Burung Pungguk.

9). Syair Sidang Faqir.

10). Syair Dagang.

11). Syair Perahu.

12). Syair Ikan Tongkol.

Keterangan lengkap mengenai data karya Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dirujuk dalam buku yang berjudul Al-Ma’rifah Pelbagai Aspek Tashawuf Nusantara, jilid 1

Mengakhiri artikel ini di sini perlu dijelaskan bahwa makam Syeikh Hamzah al-Fansuri telah ditemui sebagaimana ditulis oleh Dada Meuraxa: “Di satu kampung yang bernama Obor terletak di hulu Sungai Singkil, terdapat makam ulama dan pujangga Hamzah Fansuri. Makam itu bertulis: Inilah makam Hamzah Fansuri mursyid Syeikh Abdurrauf = Hamzah al-Fansuri guru Syeikh Abdur Rauf.”

Mengenai tahun wafat Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat selama ini tidak pernah disebut. Tetapi Azra dalam Jaringan Ulama menyebut bahwa ulama sufi itu wafat pada tahun 1016 H/1607 M. Disebutkan tahunnya itu disekalikannya membantah bahwa Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri (Al-Sinkili, menurut istilahnya) “tidak mungkin bertemu dengan ulama sufi itu”.

Seolah-olah Azra menolak mentah-mentah tahun kelahiran Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri yang disebut oleh A. Hasymi tahun 1001 H/1592 M itu, kemungkinan dia berpegang pada tahun kelahiran 1024 H/1615 M, atau pendapat lain 1620 M, sedangkan tahun kewafatan Syeikh Hamzah al-Fansuri yang disebutnya 1016 H/1607 M itu belum juga tentu betul. Wallahu a’lam.

Oleh Tgk. Hasbi Al Bayuny ( Ketua Rabithah Thaliban Aceh). [TF/Santri Dayah]

Dakwah Cyber.com

Translate »