Oleh : Samsul Nizar
KETIKA hujan mengguyur atau terik matahari menyinari bumi, kehadiran payung begitu penting. Manusia berusaha mencari payung agar tak basah atau sengatan panas matahari.
Meski kadang berat, payung tetap diangkat ke atas untuk menutupi seluruh tubuh agar tak kehujanan atau kepanasan. Ketika itu, tak peduli kualitas, bentuk, warna, harga, atau ukurannya. Hujan, panas, dan payung merefleksikan sifat manusia yang selalu mencari “payung” untuk melindungi diri menghadapi “badai dan panasnya” asa kehidupan.
Namun, tatkala hujan reda dan terik mata-hari meredup, kehadiran payung tak diperlu-kan. Payung terdampar di pojok ruangan.Tak ada yang mau menyentuh apalagi membawanya. Payung serasa begitu berat dan memalukan untuk dibawa. Demikian nasib payung dan wujud perlakuan manusia terhadapnya. Bak pepatah “habis manis sepah dibuang” yang mengingatkan watak manusia yang tak tau balas budi (berterimakasih). Fenomena sederhana dan lazim, tapi mengajarkan tentang karakter dan sifat manusia, yaitu: Pertama, hujan menyirami dan matahari menyinari bumi dengan membawa asa kehidupan. Keduanya hadir tanpa memilih tempat, strata sosial, dan janji pundi-pundi. Semua didatangi dengan kesetaraan. Hal ini sesuai firman-Nya : “Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen” (QS. Qaf : 9).
Namun, hujan bisa berubah ganas dan memusnahkan semesta sebagai penyampai murka Allah atas umat yang berbuat kemungkaran. Berbagai bentuk murka-Nya (azab) telah menimpa umat nabi Nuh (QS. Hud : 42-44), Fir’aun dan bala tentaranya (QS. al-Baqarah : 50), kaum nabi Luth (QS. asy-Syu’ara’ : 173), kaum ‘Aad (QS. al-Ahqaf : 24), atau kaum Saba’ (QS. Saba’ : 16). Namun, manusia acapkali lupa diri ketika memper-oleh nikmat dan tak sadar atas murka-Nya.
Kedua, Payung simbol keikhlasan dan ketulusan. Payung selalu siap melindungi tanpa pamrih. Berdiri tegak dan mengembangkan dirinya sebagai benteng pelindung di saat manusia memerlukan perlindung-an dari panas, hujan, atau bahaya lainnya. Ia “korbankan” dirinya untuk keselamatan orang lain. Keikhlasannya menolong tanpa validasi dan puji. Sungguh, payung sedang mengimplementasikan ayat-Nya: “…Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia…” (QS. al-Maidah : 32).
Merujuk pada tafsir Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan sifat bani Israil yang terbiasa berlaku zalim. Sifat nista bani Israil seakan diteruskan umat akhir zaman. Bukan hanya membunuh dalam makna fisik, tapi lebih pada “membunuh masa depan” peradaban dengan merekayasa kemungkaran seakan berwujud kebenaran. Manusia bisa saja ter-tipu, tapi Allah Maha Mengetahui atas tipuan yang dilakukannya (QS. al-Baqarah : 9).
Ketiga, Menunjukan karakter asli “payung”. Dalam makna ini, ada 2 (dua) jenis payung, yaitu : (1) payung pelindung kebaikan dari ancaman keburukan. Dengan demikian, kebajikan dan kebaikan lebih leluasa untuk mewarnai peradaban (QS. Ali Imran: 110) yang membawa ruh rahamat-an lil ‘alamin. Karakter payung jenis ini akan membangun aliran “sungai amal jariyah“. (2) payung pelindung para pelaku kejahatan untuk leluasa melakukan berbagai kemungkaran. Akibatnya, peradaban hanya membawa kerusakan atau mafsadah lil ‘alamin (QS. ar-Rum : 41). Karakter payung jenis ini akan membangun aliran “sungai dosa jariyah”. Jalur yang tak diinginkan, tapi diperebutkan.
Keempat, Penunjuk sifat kemunafikan yang nyata. Ketika memerlukan sesuatu, semua cara dilakukan untuk memperoleh simpati “juru penolong” agar dirinya selamat atau mendapatkan apa yang diinginkan. Tak peduli besarnya energi yang dicurahkan, waktu, biaya, pujian diapungkan. Bahkan, “sesembahan dan sesajian” disuguhkan tanpa peduli halal dan haram. Semua ditujukan untuk memenuhi hasrat nafsu duniawi meraih apa yang diinginkan.
Kelima, Lupa diri dan tak tau diri. Sifat ini dinukilkan dalam pepatah “habis manis sepah dibuang”. Ketika hujan reda dan panas tak lagi menyengat, payung sering kali dilipat dan dianggap sebagai beban atau ditaruh di sudut ruangan yang sepi, kotor, dan diabaikan. Simbol ironi sosial ketika sifat manusia terkadang melupakan atau mengabaikan orang lain setelah pertolongan atau jasanya tidak lagi diperlukan. Sebab, ketika keperluan dan hasrat telah terpenuhi, begitu mudah mencampakan “sosok penolong” atau media yang telah membantunya. Jangankan media penolong berwujud benda atau sesama manusia, bahkan terhadap Allah Yang Maha Kuasa kadangkala ditinggalkan bila keinginan yang dimunajatkan telah diraih.
Sungguh, ketika keinginan memuncak, manusia siap mengemis, menjilat, dan rela “menghinakan diri”. Namun, ketika keinginan telah diraih, maka terlihat nyata wujud aslinya. Tampil dengan kesombongan, merasa hebat, suci, mulia, dan pongah melebihi iblis. Bahkan, begitu Allah buka aibnya, ia tetap berkelit mencari kambing hitam tanpa rasa bersalah. Tetap pasang jurus “tebal muka” (tanpa malu) dan tebar pesona melalui kemunafikan. Meski Allah telah mengingatkan, tapi acapkali didusta-kan.
Allah berfirman : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu sama lain adalah sama; mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan mencegah perbuatan yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir)…” (QS. at-Taubah : 67).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan tentang sifat orang munafik. Mereka pelaku atau mendukung kesesatan komu-nitasnya. Untuk itu, Allah akan membiarkannya dalam kesesatan sebagai balasan atas kekufuran yang dilakukannya.
Meski kekufuran begitu nyata, tapi tak ada yang peduli untuk memperbaikinya. Semua terdiam karena tak lagi tersisa rasa malu melihat semua kemungkaran. Akibatnya, kemungkaran demi kemungkaran menjadi fenomena yang “lumrah” dan begitu bebas. Sosok yang demikian begitu nista. Untuk itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan melalui sabdanya : “….. Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu'” (HR. Bukhari).
Bagi hamba-Nya yang memiliki ruh iman dan rasa malu akan merasa diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian, ia akan terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat, baik saat sendiri (personal) maupun di tempat ramai (kolektif). Namun, hamba yang tercabut rasa malu akan menyandarkan tujuan hidup pada “nafsu duniawi”. Mereka begitu bebas melakukan semua kemaksiatan yang diinginkan. Tapi, Allah tak pernah mengingkari semua janji-Nya. Kebebasan berbuat maksiat merupakan bentuk kehinaan manusia yang disetara-kan dengan hewan, bahkan lebih hina (QS. al-A’raf : 179). Pada waktunya, Allah akan buka semua tipu daya yang pernah dilaku-kan. Janji yang tertuang pada firman-Nya : “Atau apakah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakan ke-dengkian mereka ?” (QS. Muhammad : 29).
Ayat di atas menyindir kaum munafik yang mengira kejahatan yang mereka sembunyi-kan akan tertutup rapi. Ketika waktunya tiba, Allah pasti akan membukanya. Namun, anehnya meski semua terbuka begitu nyata, tapi manusia tak pernah sadar dan terus berbuat kesalahan serupa. Semua akibat hilangnya ruh iman dan rasa malu.
Pepatah bijak mengatakan “sedia payung sebelum hujan”. Pepatah ini mengingatkan agar manusia selalu waspada, mempersiapkan diri, dan berikhtiar sebelum rintangan atau kesulitan datang menghampiri. Payung disiapkan saat langit masih cerah. Sebab, cuaca bisa berubah sewaktu-waktu. Dalam konteks ini, manusia yang bijaksana tak me-nunggu datangnya masalah, tapi menganti-sipasi agar gerak kehidupannya tak menim-bulkan masalah. Ia selalu membentengi diri dengan iman, ilmu, akhlak, dan rencana cadangan sebagai bentuk ikhtiar menghadapi ketidakpastian. Namun, sehebat apa pun sebuah payung sebagai pelindung tetap memiliki keterbatasan. Jika badai terlalu besar dan angin begitu kencang, payung bisa terbalik dan rusak. Simbol pengingat pada manusia yang sombong (jumawa) atas kuasa atau “pelindung” yang dimiliki. Pada waktunya, “payung akan tertutup” dan tersimpan dipojok ruangan. Sebab, semua yang “baharu” pasti memiliki keterbatasan. Meski sebelumnya begitu digdaya melin-dungi, tapi pada waktunya justeru perlu bantuan dan pertolongan (vertikal atau horizontal). Sebab, hanya Allah Yang Maha Kuasa dan “payung hakiki”. Ketika hamba melupakan Allah, maka kelak Allah akan melupakannya. Hal ini sesuai firman-Nya : “Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. at-Taubah : 67).
Menurut ath-Thabari, ayat di atas menjelas-kan karakter orang munafik dan fasik yang melupakan Allah. Untuk itu, Allah SWT akan membiarkannya jauh dari kebenaran dan rahmat-Nya. Mereka adalah orang yang tergelincir dari jalan ketaatan dan masuk ke dalam lingkaran kekufuran. Namun, meski begitu nyata kefasikan yang terjadi, tapi para pemuja “payung koyak” selalu membelanya. Padahal, ia sadar akan “basah, hanyut, tenggelam, terbakar” oleh air hujan atau panasnya matahari yang meluluhlantakkan alam semesta. Semua akibat ulah pembela kemungkaran segelintir manusia, tapi berdampak masif. Sungguh akal dan hati telah terkunci. Isinya berupa kotoran bak udang. Untuk itu, wajar bila kezaliman menjadi kesenangan. Namun, ketika murka-Nya hadir, semua hanya menyelamatkan diri tanpa peduli pada payung yang dimulia-kan dan dipuja. Hanya tersisa penyesalan yang tak berguna. Semua pihak akan me-manen atas apa yang ditanamnya (QS. asy-Syura : 20). Sungguh, kenikmatan duniawi hanya sementara, tapi nilai perbuatan akan abadi dan dipertanggungjawabkan dihadap-an Allah. Ketika itu, manusia tak lagi mampu menutupi dan merekayasa semua kemung-karan yang pernah dilakukannya. Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Editor : Edwar Yaman
Sumber: riaupos.jawapos.com
Recent Comments