Tahun ini seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Hari Raya Idul Fitri beda. Kadang juga sama. Kita telah mengalami persoalan ini berkali-kali sebagai bagian dari tradisi keilmuan dalam mendapatkan kebenaran. Dan setiap golongan mempunyai otoritas untuk melakukan ijtihad sebagai bagian dari kebebasan berfikir dan berpendapat yang dilindungi oleh konstitusi. Ijtihad sebagai wujud kebebasan tersebut sudah sepantasnya juga mendapatkan legitimasi dari masyarakat berupa kesadaran menghargai perbedaan. Bukan kebebasan untuk menyalahkan perbedaan tersebut secara membabi buta.
Persatuan umat Islam bukan berarti seperti baris berbaris. Semua harus satu perintah seperti seorang pengembala kambing mengarahkan seluruh kambing untuk makan rumput atau balik ke kandang. Persatuan umat Islam terletak pada kesadaran diri tentang makna tauhid sebagai bagian kesadaran melihat umat Islam sebagai kal jasadil wahid-seperti satu anggota tubuh. Perbedaan organ tubuh tapi tidak menyebabkan berpencar-pencar. Semua menjalankan fungsinya, tapi pada saat lain semua akan merasakan sedih ketika bagian dari tubuhnya merasa sakit.
Kita mungkin punya stempel sebagai Islam sunni. Laksana sebuah tubuh, ada sunni kepala, sunni tangan, sunni mata, sunni perut dan sunni kaki. Seluruh organ tubuh dengan beragam stempel sunni punya bendera yang tidak sama, tapi punya organ hati satu yaitu laa ilaha illa allah-tidak ada tuhan selain Allah. Apakah sesama stempel sunni yang hanya berbeda furu’ dan baju ormas harus bertengkar terus. Masa sih ketika mata “kelilipan”, mulut malah “cengengesan” bahagia melihat mata sakit. Tidak lucu bukan?
Jika ditarik lebih atas lagi ketika kita menyebut Islam sebagai satu tubuh, maka akan menemukan beragam anggota tubuh: ada sunni dan syi’ah. Keduanya punya sejarah dan bentuk tubuh yang berbeda. Sejarah itu karena politik. Baik sunni maupun syi’ah punya kesalahan politik sama-sama besar. Sama-sama saling bunuh. Siapa yang membunuh cucu nabi di Padang Karbala? Kaum sunni. Realitas politik ini seolah-olah amnesia lalu dengan gampang menuduh sesat. Padahal pada tubuhnya juga masih ada kesamaan keyakinan paling mendasar yaitu: Laa Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah.
Idul fitri kita di Indonesia hari ini masih bisa menikmati kueh dengan beragam jenisnya -meskipun mungkin masih hutang kepada tetangga dan untung saja masih bisa hutang. Namun tidak ada jaminan akan begini terus. Kondisi geopolitik internasional telah membuat ketidakpastian seperti laksana ayam potong, pagi masih dikasih “makanan”, siang sudah dipanggang.
Masyarakat sunni di Palestina laksana lost generation. Siapa yang membuat menderita di sana? Apakah Arab Saudi, apakah Iran?. Bukan. Tapi kelompok kaum yahudi yang ingin kembali ke tanah leluhurnya sebagai tanah -menurut mereka- yang dijanjikan kemuliaan di masa mendatang. Namun karena sedikit literasi, sebagian masyarakat Islam justru lebih keras melawan Iran -yang tidak menyerang Palestina sama sekali, malah justru membantu kemerdekaan- hanya karena perbedaan pada beberapa bagian keyakinan dan ibadah.
Sering kita melupakan realita sejarah. Jika Palestina sebagai kelahiran “tanah para nabi” maka Iran sebenarnya penyambung lidah pesan-pesan para nabi. Kita sering melupakan realita dalam beragama sehari-hari. Kita mengenal agama dan mengenal sunnah-sunnah rasul justru dari Iran. Kitab kutub as-sitah-kitab hadist yang dikarang oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah, Nasai, Tirmidzi- adalah ulama kelahiran dari tanah Persia -Iran sekarang ini. Begitu juga para ilmuwan yang kita sebut-sebut dan kita bangga-banggakan saat bicara tentang peradaban Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Ghazali -masih banyak lagi- bagian dari darah Persia. Para ulama hari ini yang belajar dan mengenal agama Islam setuju atau tidak setuju sama-sama mengakui kutub as-sitah adalah menjadi hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Semua penulis dari Iran.
Hari ini tanah Palestina sudah diacak-acak dan dirampas oleh negara Israel. Bukan oleh Iran. Tapi permainan media internasional benar-benar telah berhasil menanamkan antipasti terhadap Iran. Islam sunni benar-benar marah sama Iran -yang sekali lagi tidak merusak kondisi palestina sama sekali. Lucu tapi nyata. Aneh tapi nyata.
Hari ini juga negara Iran benar-benar menunjukan jiwa jihad luarbiasa. Pemain tunggal melawan AS dan Israel. Bisa jadi ini perang bumi hangus. Perang habis-habisan. Iran benar-benar benteng terakhir kekuatan Islam di dunia. Iran hancur, maka masyarakat Islam laksana buih di tengah lautan. Ada hanya untuk permainan “bola ping pong”, tendang sana-tendang sini sekehendak penguasa internasional.
Hari ini seluruh Timur Tengah tegang dan warga negara nya stress ketakutan akan kematian di Hari Idul Fitri. Palestina sudah sekarat. Iran tidak sempat merayakan malam Idul Fitri dengan mercon dan kembang api. Ia merayakan dengan drone dan rudal dikirim ke pangkalan militer AS di Timur Tengah dan ke Israel.
Sekali lagi, kita hari ini masih bisa makan kueh, keju dan gorengan ubi. Masih bisa beli celana dan baju, masih ada mall-mall tempat berbelanjaan. Apakah semua akan seperti ini terus. Wallahu a’lam.
Hari ini umat Islam dalam kondisi tidak menentu di tingkat global. Semua sedang sakit. Idul fitri laksana minum bratawali. Sangat pahit sekali. Meskipun demikian, semoga kondisi seperti ini menjadi obat penyembuh penyakit hati umat Islam dan ada kesadaran kolektif sama-sama merasa betapa pentingnya makna “ummatan wahidah” untuk seluruh umat Islam yang beragam tersebut.
Penulis: Imam Ghozali
Sumber: imamghozali.idA
Recent Comments