Oleh: Ibnu Majid
Pada bulan Ramadan diturunkan Kitab Suci Al-Quran, pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan. Barangsiapa yang menyaksikan Ramadan, maka hendaklah ia mengerjakan puasa.
Ramadan adalah bulan disyari’atkannya puasa, yang merupakan salah satu dari rukun Islam, sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” [al-Baqarah:183]
Puasa telah dilaksanakan sejak lama sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu puasa. Dalam sejarah agama-agama besar, puasa sudah tidak asing lagi.
Sesudah lebih kurang 360 hari bersembunyi dalam lipatan masa, maka kekasih-Ramadan muncul kembali di tengah-tengah kaum muslimin dan keluarga muslim khususnya, dengan senyum, memperlihatkan wajah yang segar dan berseri-seri. Kehadirannya kembali memberikan pengharapan dan optimisme kepada setiap orang mukmin, sebab dia akan membawa kenikmatan jiwa dan rohaniah dalam kehidupan ini. Masa berpisah selama 360 hari itu dirasakan terlalu lama, sehingga kalaulah ada jalan untuk mempercepat proses pertukaran siang dengan malam, tentulah orang-orang yang beriman akan menempuh jalan tersebut supaya kekasih Ramadan yang ditunggu-tunggu itu dapat datang lebih cepat dari waktu yang sudah ditetapkan.
Allah berfirman yang bermaksud;
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (S.al-Baqarah:183)
Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, kerana mengharapkan reda-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.
Ramadan bulan yang banyak mengandung Hikmah di dalamnya. Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda, malah di bulan Ramadan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim, yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membezakan yang benar dengan yang salah.
Puasa Ramadan akan membersihkan rohani kita serta keluarga muslim dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, menghindari dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri.
Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, kerana mematuhi perintah Allah. Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.
Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan: ” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa”. Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadan, melatih diri kita, menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya. Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bukanlah puasa itu hanya sekadar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan cakap-cakap kosong dan kata-kata kotor.”
(HR Ibnu Khuzaimah)
Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadan, kerana puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh kerana itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.
Perlu diingat ibadah puasa Ramadan akan membawa faedah bagi kesehatan
rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.
Allah berfirman yang maksudnya:
“Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (surah al-A’raf:31)
Dianjurkan pula ibadah pada malam harinya untuk beribadah (qiyamullail). Kerana sesungguhnya bulan Ramadan adalah bulan yang mulia, sumber segala rahmat dan kebaikan. Allah memberi keberkahan dan maghfirah. Para Malaikat turun untuk ikut memanjatkan do’a dan pujian agar manusia memperoleh ampunan. Semua pintu kebaikan dibuka seluasnya serta semua syaitan “dibelenggu.” Rasulullah mengkhususkan bulan ini sebagai bulan untuk beribadah melampaui bulan-bulan lainnya. Demikian juga para sahabat, mereka saling bergegas dalam amal-amal kebaikan semata-mata mengharap reda Allah SWT.
Selain posisi istimewa di sisi Allah SWT yang diperoleh oleh seorang mukmin yang berpuasa, hikmah dari puasa juga teramat besar. Baik hikmah rohani maupun jasmani, baik terhadap diri pribadi maupun kepada masyarakat luas.
Ramadan juga sebagai syahrul ibadah (bulan ibadah) dimana terdapat nilai ibadah yang tinggi serta semangat beribadah yang tinggi. Selain itu juga sebagai “Syahrul Fath” (bulan kemenangan). Umat Islam memperoleh kemenangan dalam “perang kecil”, perang Badar. Boleh dikatakan juga sebagai “Syahrul Huda” (bulan petunjuk) kerana pada bulan Ramadanlah turunnya petunjuk kehidupan yaitu al-Quran pada pertama kalinya. Selain itu bulan Ramadan juga disebut sebagai “Syahrul Ghufran” (bulan penuh ampunan). Pada bulan ini, dimudahkan pintu pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Sebagai “Syahrus Salam” (bulan keselamatan), bulan Ramadan adalah bulan yang mengandung nilai-nilai edukatif yang dapat menciptakan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian bagi umat manusia. Dan yang terakhir adalah sebagai “Syahrul Jihad” (bulan perjuangan).
Semoga kita dapat menjadikan Ramadan sebagai wadah pemantapan mental sehingga tercipta kawalan diri yang baik yang akan meninggalkan kesan ke dalam masyarakat sehingga puasa bukan hanya memperoleh lapar dan haus sahaja, agar kita tidak tergolong orang-orang yang dinyatakan Nabi SAW:
“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus.”
Tapi kita berharap dengan puasa disamping hikmah yang dikandungnya, yang paling penting adalah semua semata-mata pengabdian kita kepada Allah SWT.
Recent Comments