Oleh: Samsul Nizar  

Bulan Ramadan kembali hadir menemui “hamba terpilih” yang berupaya menjaga kesucian (lahir dan batin). Namun, bagi hamba “tersingkir”, kehadiran Ramadan acapkali sebatas melaksanakan dan tau keutamaannya, tapi tak berupaya mensucikan hakikat diri secara utuh.

Akibatnya, bulan ramadhan sebatas pergantian waktu dan puasa hanya ibadah rutin dengan “hitungan” pahala, tapi tak mampu berkorelasi terhadap adab dan kualitas karakter diri. Untuk itu, wajar bila Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga (haus)” (HR. an-Nasa’i dan Ibn Majah).

Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa mencakup aspek jasmani (makan/minum), panca indera, dan rohani (hati) untuk menikmati kebersamaan dengan-Nya. Aktivitas puasa yang hakiki akan membuahkan adab dan keikhlasan, bukan kemunafikan. Untuk itu, puasa hakiki harus dilakukan secara totalitas (kaaffah), bukan sebatas seremonial, “pelepas” syariat, dan “hitungan” pahala.

Dalam menyambut dan melaksanakan ibadah Ramadan, setidaknya terdapat beberapa karakter manusia, antara lain :

Pertama, Menemui bulan Ramadan tanpa perbedaan (sebatas ibadah rutin), bahkan tanpa ekspresi. Kehadiran ramadhan sebatas pergantian waktu, sebagaimana siang berganti malam. Sikap ini menghantarkan aktivitas Ramadan sebatas “melepaskan” kewajiban syariat. Sementara akal, hati, sikap, dan karakter diri tak pernah dihadirkan agar “dipuasakan” untuk bisa “bersama-Nya”.

Kedua, Menemui ramadhan dengan rasa bahagia sebagai bulan keberkahan, tapi tanpa mampu “berbekas” (perubahan) pada aspek karakter (watak). Hal ini terlihat selama ramadhan. Ibadah begitu “rimbun”, tapi tanpa “buah” pasca bulan ramadhan. Akibatnya, ramadhan sebatas ibadah rutin yang ditandai tanpa makan, minum, dan perilaku yang membatalkannya. Sementara, karakter diri yang kotor tak pernah mampu dibersihkan (berubah). Padahal, indikator bekas ketaatan hamba ketika hadir “ketundukan”. Untuk itu, Allah mengingatkan melalui firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (QS. al-Anfal : 2).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menegaskan bahwa keimanan sejati berbuah ketaatan lahiriah dan batiniah (adab). Hal ini menjadikannya pembeda antara iman yang benar (hakiki) dan iman sekadar pengakuan (imitasi). Fenomena pembeda ini begitu nyata terlihat pada saat ramadhan, apatah-lagi setelah ramadhan berlalu. Namun, manusia acapkali tak memperdulikannya.

Ketiga, Menemui ramadhan dengan “rasa berat” (beban) dan segelintirnya “masa bodoh”. Sikap ini menjadikan ramadhan dianggap bulan “pengekangan yang cukup menyiksa”. Berbagai alasan bermunculan (kesehatan, tuntutan ekonomi, pekerjaan, dan lainnya). Tampil sikap “masa bodoh” dengan menjadikan ramadhan kehilangan makna. Tampil elegan makan dan minum tanpa peduli mereka yang berpuasa.

Keempat, Menemui ramadhan dengan antusias, ekspresi syiar dakwah yang tak henti-hentinya, seiring publikasi pengisi keperluan content. Semarak ramadhan sebagai bulan berbagi melalui gempita media sosial perlu dijaga agar tak muncul sifat riya’. Bila perilaku ini tak mampu mengotrol diri dari riya’, maka aktivitas publikasi akan menghantarkan pada kesombongan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sabdanyab : “Barang-siapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan (memperlihatkan) aibnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas secara tegas menjelaskan bahwa ibadah yang berbalut riya’ hanya menghasilkan amaliah yang sia-sia belaka. Ia tak akan berbekas dan mewarnai watak diri. Ia hanya sekedar “membasahi dan membasuh” tanpa mampu mensucikan. Untuk itu, berhati-hati dalam beribadah. Jangan sampai sebatas membawa “ember bocor”. Awalnya penuh, tapi menjelang sampai tujuan justru kosong kerontang tanpa tersisa. Alangkah merugi manusia yang beribadah tanpa diselimuti keikhlasan. Bahkan, pada waktunya semua aib akan diperlihatkan sebagai i’tibar bagi manusia pemilik akal dan iman.

Kelima, Menemui Ramadan dengan rindu dan menjadikannya “bulan rahasia” untuk munajat hamba bersama Allah. Bertemu bulan ramadhan merupakan kebahagiaan dan selalu disyukuri. Sebab, Allah kembali mempertemukan dengan bulan yang suci. Kerinduan dan syukur yang dilandasi oleh iman untuk meraih ketaqwaan hakiki. Hal ini merujuk pada firman-Nya : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah : 183).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan puasa sebagai media bagi orang beriman untuk mencapai takwa. Sebab, puasa bukan hanya menahan diri dari seluruh perbuatan yang merusak dan membatalkan puasa, tapi berikut upaya membersihkan jiwa dari nafsu dan kualitas iman (taqwa) sebagai benteng diri. Ketika puasa lahir dan batin mampu dilakukan secara integral, maka ramadhan akan menjadi bulan tarbiyah bagi hamba terpilih.

Dalam Islam, ibadah puasa merupakan komunikasi “rahasia antara hamba dengan Khaliqnya”. Untuk itu, puasa selama bulan ramadhan perlu dilandasi keimanan dan keikhlasan seorang hamba. Hal ini dinyatakan Allah dalam hadis qudsi, bahwa : “Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya” (HR. Bukhari).

Melalui hadis qudsi di atas, Allah mengingatkan bahwa semua amaliah bisa dilihat dan diperlihatkan. Tapi, puasa merupakan ibadah yang tak bisa dilihat orang lain. Untuk itu, puasa dan amaliahnya perlu dirahasiakan agar tak ada yang melihat kecuali Allah semata. Sikap ini akan menjadikan rangkaian amaliah ibadah puasa (ramadhan) mampu mencapai puncak keikhlasan (taqwa) dan kenikmatan berkomunikasi dengan Allah (QS. ar-Ra’du : 28). Di sini letak puncak kenikmatan komunikasi transendental (khusyuk) antara hamba dan Khaliq. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu Rabbnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Menurut penulis, kegembiraan “bertemu dengan Allah” pada hadis di atas memiliki 2 (dua) makna yaitu : (1) bertemu secara imani pada setiap munajat (amaliah) yang dilakukan sebagai kenikmatan “rasa” dalam kekhusyukan penghambaan. Sebab, Rasulullah ﷺ pernah bersabda : “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Muslim).

Hadis di atas mengajarkan atas kesadaran tertinggi (muraqabah) seorang hamba ketika merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasi, menilai ketulusan, kesucian, dan kekhusyukan hamba dalam beribadah.

(2) bertemu dengan Allah ketika di akhirat (surga) sebagai kenikmatan tertinggi. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya : “Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki ; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS. Qaaf : 35).

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibn Katsir berkata, ”kenikmatan yang paling agung dan tertinggi (melebihi semua kenikmatan di surga) adalah memandang wajah Allah Yang Maha Mulia. Mereka akan mendapatkan semua kenikmatan surga bukan disebabkan karena amal perbuatannya, tetapi karena karunia dan rahmat Allah semata”.

Namun, manusia acapkali lupa dan menganggap amalnya membawanya ke surga. Sungguh keliru tatkala manusia melaksanakan rangkaian ibadah ramadhan dengan keinginan pahala dan pamer ibadah. Hal ini meletakan ibadah bukan untuk mengharap rahmat-Nya.

Ketika Ramadan dimaknai bulan dilipat-gandakannya pahala, maka manusia acapkali “berhitung amal”, bukan berharap cinta-Nya. Begitu Ramadan, aktivitas amaliah meningkat tinggi “mencecah awan”. Tapi, setelah Ramadan berlalu, amaliah “menukik tajam” ke dasar bumi. Sebab, perhitungan amaliahnya selama Ramadan dianggap telah cukup untuk jalan ke surga. Apatahlagi penantian malam lailatul qadar begitu intens dilakukan. Namun, penantian sebatas amal lahiriyah tanpa menghadirkan keinsyafan dan kerinduan penghambaan untuk bersama-Nya. Akibatnya, amaliah ramadhan hanya sekedar “bertemu untuk mampir” sejenak dalam diri, tanpa mampu bertahan lama dan mewarnai karakter diri setelah bulan ramadhan berlalu. Bahkan, kadangkala selama ramadhan pun tak mampu memberi bekas pada karakter diri. Padahal, pertemuan dengan bulan ramadhan merupakan nikmat dan anugerah-Nya agar hamba menambah bekal (amal) sebelum kembali (mati).

Sungguh, bulan Ramadan menyuguhkan “vitamin” untuk menyadarkan hamba sisi kesetaraan dihadapan-Nya. Namun, acapkali manusia alpa dengan menjadikan ramadhan sebatas “bulan penebus dosa”, bukan bulan mendidik diri menjadi muttaqin sejati. Sebab, begitu mengkristal sifat sombong, serakah, “gila pujian”, dan pamer kesalehan tanpa keikhlasan. Akibatnya, iman menjadi redup dan amal menjadi hampa (kosong). Sebab, amaliah yang dilakukan selama ramadhan masih menutupi hatinya dari cahaya Ilahi. Bila mata hati dikuasai serakah duniawi, maka mata batin akan sulit mengenal dan menemukan nur kebenaran untuk raih cinta-Nya.

Marhaban yaa Ramadan. Semoga rangkaian ibadah Ramadan tahun ini menjadi terbaik dan terindah yang kupersembahkan untuk Allah semata, aamiin yaa RabbWa Allahua’lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Translate »