Tradisi ekstrimisme kaum Bani Israel merupakan tabiat sejak masa dulu. Ayat sebelumnya telah menceritakan tentang bagaimana kaum bani israel berseteru dengan orang tuanya- Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf dengan Yahuda dan saudara-saudaranya- Nabi Musa dan Samiri, dan Nabi Muhammad dengan suku-suku Bani Israel di Madinah. Mereka selalu mengingkari perjanjian damai dan selalu ingin menghancurkan penguasa dengan segala tipu daya. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 84-85 sebagai berikut:

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُوْنَ دِمَاۤءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُوْنَ اَنْفُسَكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْۖ ثُمَّ اَقْرَرْتُمْ وَاَنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ ۝٨٤

ثُمَّ اَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تَقْتُلُوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُوْنَ فَرِيْقًا مِّنْكُمْ مِّنْ دِيَارِهِمْۖ تَظٰهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۗ وَاِنْ يَّأْتُوْكُمْ اُسٰرٰى تُفٰدُوْهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ اِخْرَاجُهُمْۗ اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٨٥

Artinya:

(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjianmu (agar) kamu tidak menumpahkan darahmu (membunuh orang) dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu. Kemudian, kamu berikrar dan bersaksi.

Kemudian, kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman pada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar pada sebagian (yang lain)? Maka, tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antaramu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan pada azab yang paling berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di Madinah sebelum Rasulullah diutus. Ada tiga suku Yahudi di Madinah, yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadir dan Bani Quraidhah. Ketiganya terlibat dalam perang saudara antara Kabilah Aus dan Khazraj; penduduk asli Madinah. Bani Qainuqa dan Bani Nadir memihak Kabilah Khazraj, sedangkan Bani Quraidhah memihak Suku Aus. Seringkali terjadi peperangan di antara mereka, bahkan di antara sesama Yahudi pun mereka saling menyerang dan membunuh. Mereka tahu bahwa hal itu melanggar perjanjian dengan Allah, namun mereka berdalih bahwa hal itu merupakan bagian dari ketaatan terhadap isi kitab suci.

Ayat tersebut menjelaskan betapa rumitnya kaum Bani Israel ketika berhadapan dengan persoalan kekuasaan dan kekayaan. Mereka sangat sulit didamaikan. Jika toh, mereka berdamai sebatas lipstik semata. Damai hanya strategi mencari jalan untuk menyerang kembali. Mereka akan melakukan pembalasan dengan membunuh atau melakukan peperangan. Ironisnya, masing-masing selalu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Perang suci, perang atas nama agama. masing-masing mengklaim sebagai perpanjangan tangan Tuhan.

Keturunan-keturunan Bani Israel hingga akhir hayat akan terus mewarisi karakter-karakter nenek moyangnya: ambisius ingin menjadi penguasa tunggal. Dimanapun berada, mereka akan head to head saling serang dan saling membunuh sesama mereka.

Ini sebagai perbandingan saja. Jumlah penduduk keturunan Bani Israel di AS pada tahun 2022-2024 sekitar 7 juta. Sedangkan jumlah penduduk keturunan Bani Israel berjumlah 25.000 di Iran pada tahun 2020. Mereka mengakui sama-sama sebagai kaum yahudi, tapi sikap politik nya berbeda. Penduduk Bani Israel di AS mendukung Zionis Yahudi, sedangkan mereka yang di Iran menolaknya.

Sikap politiknya berbeda. Mereka sama-sama mengikuti kebijakan politik negara masing-masing. Mereka-kaum Bani Israel di dua negara tersebut-saling kritik dan saling caci maki. Namun mereka sama-sama beralasan bahwa apa yang mereka lakukan bagian dari perintah Tuhan.

Pada sisi ideologi yang dibangun, penduduk keturunan Bani Israel di AS lebih sekular sebagaimana ajaran yang tertuang dalam ideologi negara tersebut. sedangkan Iran setelah berganti rezim dari Shah Mohammad Reza Pahlavi ke Ayatollah Al-Khomeini tahun 1979 menganut ideologi agama. Dua ideologi yang bertolak belakang. Namun dalam hal inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, keduanya sangat progresif. Perbedaan ideologi tidak menghalangi warga negara nya masing-masing untuk bersaing dalam penemuan-penemuan di bidang teknologi. AS  dengan semangat kemandirian akal pikiran, sedangkan iran dengan semangat jihad menegakan agama Tuhan.

Ketika keduanya bersitegang pada persoalan politik, kekuatan teknologi sama-sama ditarik pada kepentingan ideologi, maka akan sangat menarik. Ada dua tujuan yang berbeda.

Iran sebagai sebuah negara yang dibangun atas dasar agama sudah mempunyai tujuan jelas yaitu memulyakan ajaran agama hingga sampai akhir hayat. Itu sebabnya, Semangat perang dan membela kedaulatan negara lebih besar ketimbang AS yang masih berlandaskan pada pertimbangan akal.

Disini kita mengambil pelajaran, bahwa kekuatan ruhaniah bangsa Iran kepada Tuhan secara totalitas akan sangat berpengaruh kepada keyakinan dalam setiap keputusan, termasuk perang sekalipun. Dan berkaca dari sejarah, perang atas nama agama-jihad fi sabilillah-sangat sulit dipadamkan sebagaimana dulu bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda dan Jepang. Mati membela negara dan agama itu ibadah. Itu prinsip bangsa dan negara yang menganut ideologi agama seperti Iran.

Penulis : Vijianfaiz,PhD

Sumber: imamghozali.id

Translate »