Ilmu dan wawasan memang didapatkan dengan cara banyak membaca. Tetapi jika bacaan yang kita lahap tidak berisi ilmu, maka banyak membaca tidak menjadikan kita maupun anak-anak kita semakin cerdas. Jika mengingat hadis tentang zaman fitnah yang salah satu tandanya adalah “yang membaca banyak, tetapi fuqahanya sangat sedikit”, maka kita dapat mengambil pelajaran bahwa sekedar banyak membaca tidak menjadikan seseorang semakin matang pemahamannya, semakin mendalam ilmunya dan luas wawasannya.

Sebaliknya, anak justru kebingungan, mengalami shallowing atau pendangkalan berpikir yang berakibat anak enggan mengunyah pengetahuan serta malas berpikir, juga anak sulit mengaitkan antar berbagai informasi yang diraihnya melalui membaca. Anak seolah pintar, tetapi sebenarnya pemahamannya sangat lemah dan rapuh.

Sekedar catatan, sepenggal hadis tentang zaman fitnah tersebut kaitannya bukanlah tentang membaca secara umum, melainkan bahwa salah satu yang menandai zaman fitnah adalah banyaknya penghafal Al-Qur’an, tetapi fuqaha sangat sedikit. Tetapi dari ini kita belajar bahwa sekedar membanjiri diri dengan informasi melalui membaca, jika cara kita membaca maupun sumber bacaannya tidak jelas, justru jauh dari mencerdaskan memahamkan.

Lebih runyam lagi jika membanjirnya informasi yang diserap melalui berbagai bacaan itu tak dapat dibedakan antara fakta dan fiksi, antara kenyataan dan hoaks (berita palsu), serta antara ilmu pengetahuan yang benar-benar ilmiah dengan sesuatu yang dikesankan sebagai ilmu pengetahuan padahal tidak ilmiah (pseudoscience). Inilah yang disebut David Shenk sebagai data smog (kotoran data) sebagaimana ia tulis dalam buku dengan judul yang sama, yakni Data Smog. Artinya, sekedar sangat banyak membaca, baik itu buku maupun broadcast di WA maupun media sosial, tidak menjadikan seseorang bertambah luas wawasannya serta semakin matang pengetahuannya. Justru sebaliknya, menjadikan kita semakin sulit berpikir dan tidak betah berlama-lama mencerna bacaan.

Sekedar mengingatkan, masa ketika Rasulullah ﷺ memulai dakwah dan sebelum itu disebut sebagai zaman jahiliyah bukanlah karena tidak adanya budaya literasi pada masyarakat Arab. Baca tulis sangat hidup pada masa itu. Salah satu penandanya adalah Festival Syair Tahunan yang berlangsung di sana. Tetapi ini tidak serta-merta menjadikan manusia dekat dengan hidayah, hidup di bawa naungan cahaya ilmu.

Robyn McCallum menulis sebuah buku bertajuk Ideologies of Identity in Adolescent Fiction (2002). Buku ini menunjukkan bagaimana karya-karya fiksi, melalui dialog yang dibangun, menawarkan ideologi dengan berbagai akar serta kematangannya sendiri-sendiri. Menjadi masalah manakala ideologi tersebut tidak matang tersampaikan. Ini pun belum berbicara tentang apakah ideologi tersebut bersesuaian dengan kita atau tidak; haq atau bathil.

Karena itu, sebuah karya fiksi yang disodorkan pada anak-anak maupun remaja perlu digarap oleh orang-orang yang matang. Jika pun buku tersebut digarap oleh anak atau remaja, sekiranya kemampuan bertuturnya bagus, perlu ada supervisi dari orang dewasa yang kompeten. Ini apabila kita memaksudkan agar buku-buku yang dibaca anak kita dapat mematangkan pribadi mereka dan mengokohkan identitas dirinya.

Bukankah anak perlu memiliki wawasan yang luas? Betul. Anak perlu mengetahui beragam hal sehingga ia memiliki pikiran yang terbuka. Tetapi untuk dapat berpikir secara terbuka, dia perlu memiliki landasan yang kuat, baik itu berupa keyakinan –jika wawasannya berkait dengan ideologi—maupun landasan ilmu untuk wawasan yang terkait dengan pengetahuan.

Tanpa landasan yang kuat, anak bukan berpikir terbuka. Ia memang tidak memiliki arah yang jelas. Ia mudah terbawa arus yang berupa bacaan. Berpikiran terbuka berarti ia dapat memahami orang lain, sementara dirinya teguh kepada pendirian serta prinsip yang diyakininya.

Sekalipun kedua-duanya memerlukan persyaratan yang ketat, tetapi untuk buku tulisan anak maupun remaja yang menawarkan wawasan pengetahuan memiliki persyaratan yang lebih ringan dibandingkan buku yang mengusung aqidah – ideologi dalam bentuk fiksi. Nah.

Secara sederhana, agar membaca bermanfaat untuk mencerdaskan dan mematangkan pribadi anak-anak kita, pastikan bahwa mereka membaca hanya buku-buku bergizi. Buku ringan sesekali bolehlah. Tetapi berbeda sekali antara selingan dengan bacaan utama. Selain itu, doronglah anak untuk membaca buku-buku yang menginspirasi menggerakkan. In berarti, kita perlu melakukan upaya untuk mulai mengalihkan minat membaca anak kita dari buku ringan penuh cerita kepada buku-buku serius yang lebih menuntut perhatian maupun konsentrasi dalam membaca.

Cukup? Tidak. Sekedar menghabiskan buku bergizi belum tentu menguatkan pemahaman dan mematangkan diri jika anak-anak tidak tepat dalam membaca. Ingatlah bahwa membaca bukan sekedar melahap informasi. Ia kita perlukan untuk mematangkan diri. Lalu apa yang harus diperhatikan oleh anak-anak kita dalam membaca?

Salah satu kebiasaan penting dalam membaca adalah mencerna isi bacaan secara mendalam. Ini dapat dilakukan dengan membaca secara seksama, tartil, tidak tergesa-gesa. Akan lebih baik lagi jika kegiatan membaca tersebut disertai dengan menulis catatan pinggir (hasyiah), salah satu tradisi para ulama yang sangat berharga. Catatan pinggir tersebut dapat berubah komentar, kesimpulan atau sekedar penulisan butir-butir penting dari bacaan di buku tersebut.

Kegiatan menulis yang menyertai membaca juga bisa dalam bentuk menulis ringkasan (mukhtashar). Ini merupakan keterampilan tersendiri yang memerlukan penguasaan atas apa yang telah dibaca. Jika seseorang membaca hanya untuk menyerap informasi, dia akan sulit membuat rangkuman, sulit pula menulis komentar ringkas maupun kesimpulan. Ketiga hal tersebut merupakan kegiatan berbeda. Merangkum itu menuliskan secara ringkas pokok-pokok isi bacaan secara keseluruhan. Menyimpulkan itu dapat meliputi pernyataan ringkas yang disertai penentuan sikap, pengambilan keputusan, melakukan deduksi dengan terutama menggali alasan penting dari bacaan tersebut, hingga menyatakan pendapat atas isi bacaan. Sedangkan komentar lebih banyak memuat penilaian dan pendapat mengenai isi tulisan maupun cara penyajian buku. Ketiganya sangat bermanfaat dalam membaca.

Catatan pinggir dapat menghubungkan berbagai hal yang ada di dalam bacaan tersebut dengan tulisan lain, mengaitkan dengan persoalan yang sedang terjadi (connecting to the world) maupun berisi muqaranah (pembandingan secara ilmiah dan komprehensif). Yang terakhir ini, yakni muqaranah, juga merupakan salah satu kebiasaan yang sangat bagus dari para ulama sebelum memutuskan satu perkara.

Berbeda dengan membaca secara mendalam, membaca cepat (speed reading) hanya bermanfaat untuk meraup informasi (grabbing information). Ini dapat kita lakukan untuk buku yang hanya berisi informasi umum secara sekilas. Tetapi untuk buku-buku ilmiah, terlebih yang bersifat pemikiran, membaca cepat sangat rawan menjatuhkan kita pada salah kesimpulan disebabkan tidak matangnya pemahaman. Membaca jenis ini jika hanya untuk menilai sekilas sebelum memutuskan membaca atau membeli, tidak masalah. Tetapi jika untuk menyerap isinya, justru rawan mendangkalkan pengetahuan dan pemahaman anak.

Apakah tidak boleh membaca cepat? Boleh, tetapi bukan untuk mengkaji. Di antara keperluan membaca cepat adalah untuk menyegarkan kembali ingatan, khususnya terhadap buku atau tema yang memang sudah sangat akrab. Orang yang ahli dalam suatu bidang, dapat melakukan speed reading (membaca cepat) untuk menjaga dan menguatkan ingatan. Membaca cepat merupakan cara muraja’ah.

Sekedar catatan: bedakan antara membaca cepat dengan orang yang memang cenderung cepat dalam membaca disebabkan sangat biasa membaca, luas pula pengetahuannya. Meskipun demikian, yang terbiasa cepat dalam membaca bukan karena melakukan speed reading (membaca cepat), sekali waktu tetap perlu meluangkan waktu khusus untuk membaca secara lebih pelan dan menuliskan catatan di tiap-tiap bagian atau pada bagian yang penting. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Sumber: Mohammad Fauzil Adhim, Hidayatullah.com

 

Translate »